Life Is Not All About Money

0
912

Suatu pagi di bulan Mei 2008, saya baru saja mendarat di Bandara Adi Sumarmo, Solo, Jawa Tengah, dengan pesawat Garuda Indonesia penerbangan pertama dari Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. Setibanya di pintu keluar, saya menekan sebuah nama di ponsel saya. Tidak lama setelah terdengar nada sambung, sebuah suara terdengar begitu hangat menyapa. Sesaat kemudian kami saling berhadapan. Genggaman telapak tangan seorang pria paruh baya yang saya rasakan mencerminkan pribadi sosok yang terbuka. Saya duduk di samping pria itu yang duduk di belakang kemudi Honda Jazz. Selama perjalanan dari Bandara ke kota kami asyik mengobrol dengan selingan beberapa panggilan telepon yang masuk ke ponselnya. Dengan earphone yang terpasang di telinganya dia leluasa berbicara di ponselnya. Isi pembicaraan teleponnya lebih banyak terkait dengan kegiatan/urusan sosial. Seperti pagi itu, seorang warga memberitahukan dia bahwa baru saja suaminya meninggal dan membutuhkan bantuan. Saat itu juga beliau menghubungi beberapa pihak dan memberi instruksi-instruksi. Setelah itu beliau menghubungi kembali warga tersebut dan menginformasikan bahwa semua kebutuhannya sudah disiapkan. Bagi beliau urusan membantu warga yang sedang kesusahan harus segera dilaksanakan. Tidak boleh ditunda-tunda. Tanpa terasa kami sudah tiba di daerah Pasar Gede, tidak jauh dari Balai Kota Solo. Sesaat kemudian kami menyantap Timlo Sastro, warung timlo yang pertama di Solo, yang sudah berjualan di samping Pasar Gede sejak lebih dari 30 tahun yang lalu. Selesai sarapan, saya diajak mampir ke rumah beliau. Itulah pertemuan pertama saya dengan sosok bernama Sumartono Hadinoto, yang terlahir dengan nama Khoe Liong Hauw.

Martono, begitu dia biasa dipanggil, lahir, besar dan hingga saat ini tinggal di Solo. Nama beliau sangat lekat dengan aktifitas sosial di Solo. Tidak heran, karena dia memang begitu aktif di belasan organisasi sosial. Sebut saja, Perkumpulan Masyarakat Solo (PMS-Ketua Humas & Pelayanan), Lions Club Solo Bengawan (LCSB), Dewan Harian Cabang 1945 (DHC’45-Ketua Biro Sosial Budaya), Yayasan Kesejahteraan Tunanetra (Yaketuntra-Ketua), Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari-Ketua), Paguyuban Alumni Sekolah Warga, International Nature Loving Association (INLA-Ketua Kehormatan), Panti Asuhan Karya Rahayuning Anak (Karuna-Ketua), Asosiasi Pengusaha Indonesia, Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI-Ketua Umum) Solo, Palang Merah Indonesia (PMI-Sekretaris & Komandan Satgana) Kota Solo, Direktur Medical Action Team PMI Solo, Solo Emergency Response Unit (SERU-Ketua), dan beberapa lainnya. Solo Emergency Response Unit merupakan wadah penanganan bencana luar biasa yang merupakan gabungan dari berbagai elemen, seperti PMI, SAR (Search and Rescue) Unit UNS (Universitas Sebelas Maret), dan Orari. Untuk masalah yang berhubungan dengan kegawat-daruratan (emergency) dan penanganan bencana, seperti banjir yang (sering) melanda kota Solo, sosok Martono selalu hadir.

Seharian bersama beliau, memberi saya gambaran lebih jauh tentang beliau. Beliau, yang lahir pada tahun 1956, terlihat begitu gesit dan bersemangat. Energinya seperti tidak pernah habis. Sepanjang hari itu kegiatan beliau seluruhnya terkait dengan urusan sosial. Begitu besarnya kontribusi beliau dalam aktifitas sosial kepada masyarakat kota Solo sehingga dia dinobatkan sebagai satu dari 11 Tokoh Berpengaruh di Solo (www.kompasiana.com), urutan ketiga di belakang Joko Widodo (Walikota Solo) dan FX Hadi Rudyatmo (Wakil Walikota Solo). Aktifitas beliau dalam kegiatan-kegiatan sosial memancing acara Kick Andy untuk mengundangnya ke Jakarta. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah apa yang menjadi motivasi beliau sehingga begitu aktif dalam kegiatan sosial, padahal dia juga punya usaha yang cukup berhasil walaupun bukan usaha yang besar sekali. Saat saya pertama kali bertemu dengan beliau di tahun 2008, pengelolaan usahanya sudah diserahkan kepada istri, anak perempuan, dan calon menantunya (saat itu). Beliau hanya fokus mengabdikan waktunya bagi kegiatan-kegiatan sosial.

Menurut Martono, kehidupan yang sulit di masa kecil berperan besar dalam keputusannya mendedikasikan waktunya di bidang sosial. Ayahnya, yang pengusaha batik tulis kecil-kecilan, meninggal saat Martono kecil masih SMP. Kepergian ayahnya membuat rencananya untuk sekolah ke Belanda menjadi gagal total, karena dia merupakan anak lelaki satu-satunya. Martono mengambil tanggung jawab membantu ibunya dalam menopang ekonomi keluarga dengan berjualan batik setelah pulang dari sekolah. Suatu ketika, dia pernah tidak berhasil menjual selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya usaha batik ditutup. Setelah lulus SMA, Martono sempat bekerja sebagai asisten toko, dan bekerja di bengkel variasi mobil untuk waktu yang cukup lama.

Suatu ketika di tahun 1986, seorang kenalannya, yang memiliki bisnis interior berbahan aluminium, akan pindah keluar negeri. Bisnis itu kemudian dikelola dan dibelinya. Hingga saat ini bisnis tersebut masih eksis. Sejak masa SMA, Martono memang senang bergaul. Dia aktif berorganisasi. Sifat Martono yang ringan bahu membantu siapapun tanpa pamrih menambah luas pergaulannya. Prinsip dia adalah mencari kawan sebanyak-banyaknya dan berkontribusi bagi banyak orang, maka upaya menabur tidak akan pernah sia-sia. Suatu ketika ada seorang pengusaha dari Jakarta sedang berada di Solo untuk urusan pekerjaan interior dengan salah seorang kenalan Martono. Ternyata mobil pengusaha tersebut AC-nya mati dan oleh kenalannya dipanggillah Martono. Masalah AC mobil terpecahkan. Pertemanan dengan pengusaha terjalin. Dan selanjutnya hubungan pertemanan berlanjut menjadi hubungan bisnis. Martono mendapatkan keagenan bahan gypsum dari pengusaha tersebut.

Perkenalan saya dengan Martono tak terduga. Saat itu saya menghadapi kendala dalam suatu proyek di Solo. Saya mencari seseorang yang bisa membantu mengurai benang kusut dalam pekerjaan itu. Pencarian bergerak dari satu orang ke orang lain hingga pencarian saya beredar di PMS, dan akhirnya muncullah nama yang direkomendasikan, Sumartono Hadinoto. Selanjutnya seperti yang sudah saya tuliskan di atas bertemulah saya dengan beliau. Dengan bantuan beliau persoalan yang ada dalam pekerjaan dapat terpecahkan. Dan beliau benar-benar membantu tanpa pamrih. Dengan aktifitasnya di banyak organisasi sosial, Martono tentu memiliki akses ke penguasa. Saya tahu persis dia sangat dikenal oleh Walikota Solo Joko Widodo maupun Wakil Walikota FX Hadi Rudyatmo. Demikian pula pengusaha-pengusaha di Solo pasti mengenal Martono. Namun, tidak sekalipun dia memanfaatkan kedekatannya bagi keuntungan pribadi bisnisnya.

Seharian bersama beliau, memberi saya gambaran lebih jauh tentang beliau. Beliau, yang lahir pada tahun 1956, terlihat begitu gesit dan bersemangat. Energinya seperti tidak pernah habis. Sepanjang hari itu kegiatan beliau seluruhnya terkait dengan urusan sosial. Begitu besarnya kontribusi beliau dalam aktifitas sosial kepada masyarakat kota Solo sehingga dia dinobatkan sebagai satu dari 11 Tokoh Berpengaruh di Solo (www.kompasiana.com), urutan ketiga di belakang Joko Widodo (Walikota Solo) dan FX Hadi Rudyatmo (Wakil Walikota Solo). Aktifitas beliau dalam kegiatan-kegiatan sosial memancing acara Kick Andy untuk mengundangnya ke Jakarta. Satu pertanyaan yang menggelitik saya adalah apa yang menjadi motivasi beliau sehingga begitu aktif dalam kegiatan sosial, padahal dia juga punya usaha yang cukup berhasil walaupun bukan usaha yang besar sekali. Saat saya pertama kali bertemu dengan beliau di tahun 2008, pengelolaan usahanya sudah diserahkan kepada istri, anak perempuan, dan calon menantunya (saat itu). Beliau hanya fokus mengabdikan waktunya bagi kegiatan-kegiatan sosial.

Menurut Martono, kehidupan yang sulit di masa kecil berperan besar dalam keputusannya mendedikasikan waktunya di bidang sosial. Ayahnya, yang pengusaha batik tulis kecil-kecilan, meninggal saat Martono kecil masih SMP. Kepergian ayahnya membuat rencananya untuk sekolah ke Belanda menjadi gagal total, karena dia merupakan anak lelaki satu-satunya. Martono mengambil tanggung jawab membantu ibunya dalam menopang ekonomi keluarga dengan berjualan batik setelah pulang dari sekolah. Suatu ketika, dia pernah tidak berhasil menjual selama tiga hari berturut-turut. Akhirnya usaha batik ditutup. Setelah lulus SMA, Martono sempat bekerja sebagai asisten toko, dan bekerja di bengkel variasi mobil untuk waktu yang cukup lama.

Suatu ketika di tahun 1986, seorang kenalannya, yang memiliki bisnis interior berbahan aluminium, akan pindah keluar negeri. Bisnis itu kemudian dikelola dan dibelinya. Hingga saat ini bisnis tersebut masih eksis. Sejak masa SMA, Martono memang senang bergaul. Dia aktif berorganisasi. Sifat Martono yang ringan bahu membantu siapapun tanpa pamrih menambah luas pergaulannya. Prinsip dia adalah mencari kawan sebanyak-banyaknya dan berkontribusi bagi banyak orang, maka upaya menabur tidak akan pernah sia-sia. Suatu ketika ada seorang pengusaha dari Jakarta sedang berada di Solo untuk urusan pekerjaan interior dengan salah seorang kenalan Martono. Ternyata mobil pengusaha tersebut AC-nya mati dan oleh kenalannya dipanggillah Martono. Masalah AC mobil terpecahkan. Pertemanan dengan pengusaha terjalin. Dan selanjutnya hubungan pertemanan berlanjut menjadi hubungan bisnis. Martono mendapatkan keagenan bahan gypsum dari pengusaha tersebut.

Perkenalan saya dengan Martono tak terduga. Saat itu saya menghadapi kendala dalam suatu proyek di Solo. Saya mencari seseorang yang bisa membantu mengurai benang kusut dalam pekerjaan itu. Pencarian bergerak dari satu orang ke orang lain hingga pencarian saya beredar di PMS, dan akhirnya muncullah nama yang direkomendasikan, Sumartono Hadinoto. Selanjutnya seperti yang sudah saya tuliskan di atas bertemulah saya dengan beliau. Dengan bantuan beliau persoalan yang ada dalam pekerjaan dapat terpecahkan. Dan beliau benar-benar membantu tanpa pamrih. Dengan aktifitasnya di banyak organisasi sosial, Martono tentu memiliki akses ke penguasa. Saya tahu persis dia sangat dikenal oleh Walikota Solo Joko Widodo maupun Wakil Walikota FX Hadi Rudyatmo. Demikian pula pengusaha-pengusaha di Solo pasti mengenal Martono. Namun, tidak sekalipun dia memanfaatkan kedekatannya bagi keuntungan pribadi bisnisnya.

Sikap yang ramah, terbuka, semangat, tulus dan tanpa pamrih, serta pergaulan yang luas merupakan modal yang luar biasa dalam memberi solusi bagi banyak persoalan. Contohnya adalah bagaimana strategi yang diterapkan oleh Martono berhasil membangkitkan sebuah radio yang sebelumnya sulit berkembang. Adalah Radio Metta FM Solo, yang sebelumnya merupakan radio yang dimiliki oleh sekitar 30 orang umat Katolik. Metta sendiri sebenarnya adalah singkatan dari Marsudi Endah Tata Tentreming Ati. Martono didapuk menjadi Direktur Utama dengan tugas mengembangkan radio tersebut. Pertama-tama, Martono membuka sekat eksklusivisme. Kepemilikan radio dibuka tanpa batasan agama tertentu. Jumlah pemilik dimekarkan menjadi 120 orang yang masing-masing menyetor Rp 10 juta. Visi radio ditetapkan sebagai “Inspiring Family Radio Station”. Hingga 5 tahun berjalan, keuangan radio masih kembang kempis, namun perlahan tapi pasti kemajuan terus meningkat. Saat ini, yang merupakan tahun ke-9, keuangan radio sudah akan mencapai titik impas. Saya dapat membayangkan, tidak mudah mengelola sebuah bisnis dengan jumlah pemilik modal mencapai 120 orang. Namun, sosok Martono, yang hanya lulus SMA namun memiliki prinsip yang kuat mampu melakukannya.

Prinsip itu pula yang membuatnya hingga saat ini menikmati aktifitasnya di belasan organisasi sosial tanpa beban. Prinsipnya dalam mengabdikan diri di setiap organisasi sosial adalah, “Bekerja dengan niat baik dan ikhlas. Tanpa pamrih. Dan jangan berambisi soal kedudukan atau mau memiliki organisasi, karena tujuan kita dalam organisasi sosial adalah melayani masyarakat luas”, katanya. Dia merasa kebahagiaan hidupnya sudah lengkap. Keluarga yang mencintainya. Istri yang setia mendampinginya. Anak yang hidup bahagia, yang sudah memberinya dua orang cucu laki-laki yang lucu-lucu, Michael dan Jason. Usaha yang berjalan dengan baik. Terlebih lagi, Tuhan masih memberikannya kesempatan untuk terus berkontribusi dalam perkara-perkara sosial, membantu banyak orang, mengatasi kelangkaan stok darah, menggalang bantuan makanan atau bea siswa bagi keluarga tidak mampu, dan tentunya teman-teman yang bahu membahu dalam kegiatan kemanusiaan.

Dan seperti yang sudah kita pahami, dalam pengabdian yang murni di setiap organisasi sosial alih-alih mendapatkan uang kita justru harus sering-sering mengeluarkan uang dari kantong sendiri. Namun, Martono tetap menikmati itu, dari dulu hingga saat ini tidak pernah surut semangatnya untuk melayani banyak orang. Life is not all about money. Hidup bukanlah melulu soal uang. Setidaknya, itulah yang menjadi prinsip Martono.

Salam Pemenang!

Sumber : http://suhartono-chandra.blogspot.com/2012/07/life-is-not-all-about-money.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here