Sumartono Hadinoto : Biarkan Pembaruan Berlangsung Natural

0
1106

Solo — Pembauran di masyarakat tidak perlu dilakukan dengan paksaan. Biarkan pembauran berlangsung secara natural dengan dilandasi cinta.

Demikian disampaikan Ketua Humas Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS) Solo, Sumartono Hadinoto saat menjadi pembicara dalam Semiloka Harmonisasi dan Kerukunan Antar Etnis serta Akulturasi Budaya Provinsi Jawa Tengah Tahun 2013 Tahap I di Hotel Solo Inn, Kamis (27/6).

Menurut Sumartono, pembauran tidak boleh dipaksakan apalagi dipolitisasi. “Untuk apa saya harus memiliki nama Sumartono kalau kemudian saya korupsi. Lebih baik punya nama Liem Swie King, tapi dia mengharumkan bangsa,” katanya memberi contoh.

Proses akulturasi budaya yang terjadi secara alami dan tanpa paksaan justru kemudian akan berkembang menjadi karya baru. Grebeg Sudiro yang merupakan akulturasi budaya Jawa dan Tionghoa menjadi contoh terjadinya karya baru tersebut.

Lebih jauh, Sumartono mengatakan, potensi konflik akan bisa diredam jika seseorang memiliki jiwa empati dan berpikir untuk orang lain bukan dirinya atau golongannya.

“Terjadi konflik itu karena banyak hal pertama karena adanya gesekan dan itu hal yang lumrah. Kedua ada kepentingan. Kepentingan inilah yang jika kita hanya berpikir untuk diri sendiri tanpa berpikir orang lain. Kalau kita bisa berempati maka semua persoalan bisa diselesaikan,” jelasnya.

Sementara Pembicara lainnya, Dosen Fisip UNS, Drs. Kandyawan mengatakan, seorang multikulturalis selalu berpikir empati. Menempatkan dirinya pada diri orang lain.

“Selain itu, multikulturalis juga berpikir sistemik dan holistik. Hal itu seperti yang disampaikan Pak Martono tadi, dia tidak berpikir bahwa berteman itu selalu menguntungkan saat ini. Mungkin dia butuh teman itu 3 tahun mendatang. Ini namanya berpikir holistis,” pungkasnya.

Sumber : http://www.timlo.net/baca/76287/sumartono-hadinoto-biarkan-pembauran-berlangsung-natural/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here