Sumartono Hadinoto: Dedikasi Pada Kegiatan Sosial

0
751
Pasang surut kehidupan yang dirasakan Sumartono Hadinoto (56) membawanya pada pilihan hidup saat ini. Kesempatan mengembangkan bisnis berseliweran di hadapannya, tetapi ia memilih mendedikasikan diri pada kegiatan sosial. Jalan yang jarang dipilih, termasuk oleh sesama rekannya dari keturunan Tionghoa.
Sumartono berpembawaan ceria, suka membantu, dan supel bergaul. Dengan modal jaringan yang luas, ia menjadi konektor banyak pihak yang saling membutuhkan. Ia menjungkirbalikkan citra negatif yang selama ini ada, seperti etnis Tionghoa tak suka berbaur dan mementingkan materi.
Bukan sekadar gaya jika pria yang lahir dengan nama Khoe Liong Hauw ini aktif dalam 12 organisasi sosial. Posisinya mulai dari bagian humas, bendahara, sekretaris, ketua umum, hingga penasehat di sejumlah organisasi. Selain mencurahkan pikiran, tenaga, dan waktu, ia juga tak segan mengeluarkan isi kocek. Baginya, harta yang dimiliki hanyalah titipan Tuhan.
“Ibarat pipa paralon yang dilewati air, kalau kita sumbat lubangnya, lama-lama akan jebol. Namun, kalau kita biarkan mengalir, air lancar dan pipa basah terus,” katanya saat dijumpai seusai rapat di kantor Palang Merah Indonesia Cabang Solo, Jawa Tengah, pekan lalu.
Pria yang akrab dipanggil Martono ini tercatat sebagai Sekretaris sekaligus Komandan Satuan Penanggulangan Bencana (Satgana) dan Direktur Medical Action Team di PMI Cabang Solo. Martono yang pernah menjadi Presiden Lions Club Chapter Solo Bengawan ini juga mengemban tugas sebagai Ketua Humas dan Bidang Umum Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS).
Organisasi sosial lain yang dia geluti, antara lain, Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari), Dewan Harian Cabang ’45, Solo Emergency Response Unit (SERU), Yayasan Kesejahteraan Tunanetra, Panti Asuhan Karuna, dan International Nature Loving Association Indonesia.
Ia juga pernah menjadi Ketua Komite Nasional Indonesia Cabang Solo 2009-2011. Manajer Persis Solo tahun 2006, dan Bendahara Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia Cabang Solo. Aktif di berbagai organisasi memberinya keuntungan jaringan yang luas.
Masih berguna
Meski menyandang jabatan di organisasi, Martono tak segan turun langsung mengecek kondisi lapangan. Ia tak marah meski ditelepon pukul 02.00 dini hari untuk dimintai bantuan. “Justru senang karena berarti saya masih berguna untuk orang lain,” katanya.
Ia bahagia bisa berkiprah dalam organisasi kemanusiaan, seperti PMI dan PMS. Bersama pengurus lain, PMI Cabang Solo berhasil menyediakan ambulans 24 jam, stok darah 1.000 kantong per hari, dan terbentuknya SERU.
“Pengalaman saat akan erupsi Gunung Merapi, semua orang datang padahal erupsi belum terjadi. Akibatnya kami rugi tenaga, waktu, dan biaya. Dari sini kami berpikir, akan lebih baik kalau Orari dulu yang datang. Setelah terjadi erupsi, baru kami panggil SAR, dapur umum, dan PMI,” ceritanya.
Meski lahir dari keluarga saudagar batik kaya, Martono pernah mengalami masa sulit. Cita-citanya bersekolah ke luar negeri, seperti ayah dan saudara sepupunya, kandas. Sang ayah, Winarso Hadinoto, meninggal saat Martono di kelas III SMP.
Sebagai satu-satunya anak lelaki, ia harus membantu sang ibu, Kusmartati, menjalankan usaha batik keluarga, mulai produksi hingga pemasaran. Ia menempuh bangku SMA sambil bekerja.
Martono memasarkan batik sampai ke Bandung. Dari Solo ia menumpang bus, di Bandung ia naik motor bersama teman berkeliling ke sejumlah tempat menawarkan batik. Namun, hasil usaha tersebut belum memuaskan.
Cobaan kedua terjadi saat rencana pernikahannya gagal, padahal undangan telanjur disebar. Sang kekasih tiba-tiba pergi ke Jerman, meninggalkannya. Martono mengurung diri sampai tiga bulan, sempat terpikir untuk bunuh diri, tetapi tak jadi dia lakukan mengingat ada seorang teman yang justru menjadi cacat seumur hidup.
Peristiwa ini menjadi titik balik kehidupannya. Dia lalu bekerja di toko variasi mobil selama lima tahun. Pada waktu luang, ia bergabung dengan Orari.
Sejak itu muncul kesukaannya berorganisasi. Ia bergabung dengan PMS, organisasi leburan dari enam organisasi kelompok Tionghoa di Solo. Di sini ia digodok menjadi organisasi yang tangguh.
“Saya ingat pesan Ketua PMS Budi Mulyono, berbuat sesuatu itu yang penting niatnya. Kalau kita membantu itu jangan pilih-pilih,” Martono menirukan ucapan Budi saat itu.
Meluangkan waktu
Ketika seorang pengusaha aplikator aluminium berniat pindah ke Amerika Serikat, ia meneruskan usaha tersebut. Selain aplikator aluminium, usaha itu juga meliputi kaca arsitektur, perlengkapan interior, dan papan gipsum. Tokonya dibuka bersamaan dengan kelahiran putri semata wayangnya, Wiranti Widyastuti.
“Setelah melewati semua itu, saya sadar apa yang saya alami bukan cobaan, tetapi tahapan yang disiapkan Tuhan untuk membentuk saya menjadi seperti ini,” kata kakek dua cucu ini.
Selama 10 tahun mengembangkan usahanya, Candi Alumunium, Martono yang lebih terpanggil mengabdikan diri di bidang sosial sepakat dengan istrinya, Meliana Kusyanto. Usaha dipegang Meliana dan Martono berkegiatan sosial.
Namun, kepercayaan orang tak datang sekejap. Martono sempat merasakan tatapan “miring” mereka yang sinis melihat kegiatannya di bidang sosial. Awalnya ia pun merasa “berbeda” karena satu-satunya keturunan tionghoa di sebuah organisasi.
“Mungkin karena Tionghoa, dikira saya hanya menjadikan organisasi sosial sebagai sarana mencari proyek,” katanya.
Bagi Martono, kebahagiaan muncul saat seseorang bisa bersyukur dan berbuat ikhlas. Kuncinya berkegiatan sosial adalah kemauan meluangkan waktu. “Energi itu akan muncul dari semangat dan ketulusan kita.”
Ia berharap semakin banyak keturunan Tionghoa yang mau berkegiatan sosial. ia menyadari, perlakuan diskriminasi yang diterima etnis Tionghoa sejak masa penjajahan Belanda hingga Orde Baru membuat sebagian mereka memilih berkiprah di bidang ekonomi.
“Saatnya keturunan Tionghoa mengubah pandangan dan memikirkan apa yang bisa kita perbuat untuk bangsa ini,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here