Sumartono Hadinoto Dedikasi Sosial Tanpa Batas

0
739

Banyak orang yang risau dengan semakin terkikisnya jiwa sosial dan rasa solidaritas kepada sesama. Budaya konsumtif membuat orang lebih banyak berpikir dan bertindak individualistis. Jangankan memberikan pertolongan, rasa simpati pun kadang terbenam oleh perhitungan untung rugi.

Pendapat itu akan berbalik 180 derajat bila kita bertemu dengan Sumartono Hadinoto (54). Pria yang memiliki nama asli Khoe Liong Haow ini seperti tidak pernah berhitung dengam imbalan. Sebagian besar hidupnya ia dedikasikan kepada aktivitas sosial.
Sumartono sejatinya adalah seorang pengusaha. Tetapi, kalangan luas mengenalnya sebagai pengurus organisasi sosial, mulai dari Palang Merah Indonesia (PMI), Organisasi Radio Amatir (Orari), Solo Emergency Response Unit (SERU), pengurus Yayasan Tunanetra hingga Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS). Organisasi terakhir ini adalah perkumpulan warga keturunan Tionghoa yang bergerak di bidang sosial budaya.


Tidak kurang dari 14 organisasi sosial yang ia tangani. Hampir semuanya berkaitan dengan upaya membantu orang yang terkena musibah atau yang membutuhkan pertolongan. Dari mengurusi banjir yang belakangan ini kerap melanda Solo, mengatasi krisis stok darah di PMI, mencari keluarga korban kecelakaan hingga membantu siswa miskin yang memerlukan bantuan pendidikan. Semua dilakukan Sumartono tanpa keluhan.
“Sudah biasa pukul 02.00 WIB tiba-tiba ada telepon dari orang yang memerlukan darah,” ujarnya.

Berawal dari Kegagalan
Lelaki kelahiran Solo, 21 Maret 1956, dari pasangan Winarso Hadinoto dan Kusmartati ini memang orang yang ringan tangan. Hal itulah yang membuatnya punya banyak teman sejak masih duduk di bangku SLTA. Namun, di balik itu, Sumartono justru mengaku kegagalan demi kegagalan yang pernah ia alami adalah motivasinya untuk membantu sesama.
Cita-citanya untuk bersekolah di luar negeri pupus saat ayahnya meninggal dunia. Padahal, dia sudah berangan-angan menyusul saudaranya yang tinggal di negeri Belanda. Sumartono remaja pun terpaksa menggantikan peran ayahnya berjualan batik.
“Sepertinya bukan jalan saya karena meski dikenal murah dan berkualitas, tetapi batik dagangan saya tidak laku. Saya merasa gagal lagi,” ujarnya.
Tidak hanya soal usaha, dalam menjalin hubungan asmara pun, Sumartono sempat merasa frustrasi lantaran gagal menikah meski sudah tujuh tahun berpacaran. Beruntung ia tidak larut dalam kesedihan dan memilih mencari jalan lain untuk memaknai hidupnya.
“Saya ingin berbuat sesuatu agar tidak terus-menerus mengalami kegagalan. Dengan membantu orang ternyata saya merasa saya masih berguna,” ujarnya.
Namun, berbuat baik tidak selalu mendatangkan anggapan yang baik pula. Sumartono mengakui tidak jarang ada saja yang bersikap sinis, terutama karena dia keturunan etnis Tionghoa. Meski sudah enam turunan keluarga Sumartono menjadi WNI, tetap saja stereotipe Tionghoa muncul. Puncaknya terjadi pada kerusuhan Mei 1998. Rumahnya yang terletak di perkampungan dekat bantaran sungai itu menjadi sasaran penjarahan.
Meski begitu, ia tetap menilai, peristiwa 1998 itu lebih kental dengan nuansa politik ketimbang sosial. Oleh karenanya, ia terus tanpa lelah terlibat dalam upaya untuk menengahi konflik, terutama yang bermotif agama dan etnis. Saat ini, Sumartono tercatat sebagai salah satu pengurus Forum Perdamaian Antar Agama dan Golongan (FPLAG), suatu organisasi yang aktif mendorong perdamaian melalui penanganan bencana.
“Prasangka etnis itu tidak hanya di kalangan mayoritas, di kalangan minoritas pun masih ada juga,” tambahnya. [Imron Rosyid]

 

Sumber :  http://penegakhukum.blogspot.com/2010/04/sumartono-hadinoto-dedikasi-sosial.html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here